Para Bajingan yang Menyenangkan: Kisah Mahasiswa Pemain Judi

Para bajingan yang menyenangkan merupakan salah satu buku karya Puthut EA yang laris di pasaran. Buku ini mengisahkan tentang pertemanan beberapa lelaki yang kenal sejak masa kuliah. Dalam buku ini, kisah yang dibawakan sangat apik dan memberikan gambaran tentang kehidupan mahasiswa rantau yang serba kepepet.

Kisah ini terangkum dalam novel yang dikemas secara ringan dan bahasa yang mudah dicerna. Berikut ulasannya.

Para Bajingan yang Mengenal Judi sejak Muda

Puthut EA selalu memberikan sajian cerita yang hangat dan dekat dengan masyarakat. Ia selalu menggambarkan realitas sosial dalam tulisan-tulisannya. Melalui buku para bajingan yang menyenangkan, diceritakan sebuah kisah tentang beberapa anak muda mahasiswa di sebuah universitas ternama di Yogyakarta.

Mereka merasa gagal dalam urusan akademik. Kehidupannya hanya seputar tongkrongan, aksi demo, dan beberapa kegiatan tidak bermanfaat lain. Karena hampir putus asa, mereka memutuskan untuk bermain judi.

Buku ini diawali dengan pertemuan beberapa tokoh ketika sudah dewasa, yaitu Bagor, Kapsul, dan Kunthet. Pertemuan mereka terjadi lantaran salah satu teman mereka meninggal dunia. Dari pertemuan inilah kemudian pembaca akan dibawa ke masa lalu dengan alur flashback.

Para bajingan yang menyenangkan ini dibawakan dengan bahasa yang mudah dipahami dan disisipi dengan guyonan khas anak Yogyakarta. Beberapa kisah di dalamnya membawa pembaca untuk membayangkan kisah mahasiswa yang hampir menyerah dengan studinya.

Bagor, Kapsul, dan Kunthet mengisi hari-hari mereka dengan mabuk dan bermain judi. Kegiatan ini bagi mereka adalah sebuah alat untuk melepas rasa stres. Selain itu, tokoh yang berasal dari rumpun ilmu sosial ini juga terlibat dalam beberapa aksi sosial.

Membaca buku ini akan membuat pembaca tertawa dari awal hingga akhir. Penulis membuat kisah flashback ini jauh dari kesan membosankan. Beberapa bagian disajikan dengan serius dengan membawa insight kehidupan.

Di beberapa bagian buku ini, memberikan kisah sedih tentang bagaimana teman dari si tokoh ini meninggal dunia. Perkumpulan pertemanan yang sudah akrab sejak bangku kuliah ini kemudian memperlihatkan sisi melakonlis dan sedih menjadi satu.

Makna dan Pesan Moral dalam Kehidupan Mahasiswa Bajingan

Jika membaca sekilas judul buku ini mungkin akan membuat sebagian pembaca bertanya-tanya. Novel para bajingan yang menyenangkan memiliki diksi yang sedikit berbeda. Apakah buku ini selalu memiliki makna yang negatif dan tidak mendidik? Tentu saja tidak. Buku ini justru penuh dengan nilai-nilai kehidupan yang seringkali kita temui di masyarakat.

Melalui buku para bajingan yang menyenangan, Puthut EA bercerita tentang kehidupannya semasa muda bersama teman-temannya. Meski kisah mereka terbilang jauh dari mahasiswa yang diidolakan oleh pandangan masyarakat, tetapi justru ada pelajaran penting yang didapatkan selama mereka berperan menjadi ‘bajingan’.

Di dalam buku ini dikisahkan bagaimana solidaritas pertemanan yang baik. Mereka memiliki hubungan pertemanan yang langgeng dan masih bertahan hingga tua. Jika ada salah seorang yang kesulitan, mereka masih siap siaga untuk saling membantu.

Ada suatu kutipan menarik yang tertulis di dalam salah satu bagian buku ini. Kutipan ini yaitu “Kalau menang judi, jangan campur uangmu untuk bisnis. Itu tidak baik. Uang judi itu untuk bersenang-senang. Ngebir sama teman-teman. Makan-makan. Termasuk makan babi. Asal jangan makan teman”.

Kelebihan dan Kelemahan Buku Kisah Para Bajingan yang Menyenangkan

Buku ini pertama kali terbit pada tahun 2016 oleh penerbit Mojok. Cover awal novel ini nampak memperlihatkan tokoh muda mudi yang suka hura-hura. Buku ini sudah mengalami beberapa kali cetakan. Cetakan terbarunya di 2019 memberikan nuansa sederhana di sampul cover novel ini.

Novel para bajingan yang menyenangkan ini disusun dengan bahasa yang santai. Pembaca akan menemukan banyak sekali percakapan sederhana dengan bahasa sehari-hari. Pembawaan tata kalimat dalam buku ini membuat pembaca akan merasa mudah memahami ceritanya tanpa perlu unsur bahasa yang berbelit-belit.

Buku dengan tebal sebanyak 178 halaman ini bisa dibaca dengan sekali waktu karena cerita di dalamnya ringan. Berbeda dengan buku karya Puthut EA yang lain, tulisan di dalam buku para bajingan yang menyenangkan ini lebih bersifat autobiografis dibandingkan kisah fiksi. Hal ini karena kisah yang dimuat adalah kehidupan penulis beserta teman-temannya.

Beberapa obrolan dan unsur komedi tertuang dalam percakapan dalam bahasa jawa khas daerah Yogyakarta. Bagi orang yang memahami bahasa Jawa, khususnya orang domisili Yogyakarta dan sekitarnya tentu saja akan merasa terhibur.

Baca juga: Pemain Judi Profesional dalam Karya Sastra Legendaris Indonesia

Obrolan dengan bahasa lokal ini sayangnya tidak dipahami oleh pembaca yang tidak paham dengan guyonan khas Jawa. Mungkin bagi sebagian pembaca yang tidak paham dengan bahasa Jawa akan merasa guyonan yang diberikan garing dan tidak dipahami.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, unsur cerita di dalam novel para bajingan yang menyenangkan bisa dimaknai dan diambil pelajaran pentingnya. Beberapa hal memang terlihat sebagai kisah dengan konotasi negatif, misal berjudi dan mabuk minuman keras. Tetapi bagaimanapun, hal yang sedemikian itu tentu saja selalu ada di masyarakat.

Scroll to Top